Jumat, 14 Desember 2012

Kajian Orientalis Terhadap Sejarah Islam

Pendahuluan
Pihak Orientalis pada pokoknya mendasarkan pembahasan tentang Islam dengan pertimbangan yang agak aneh. Dalihnya adalah menggunakan menggunakan kriteria pembahasan analitis dan ilmiah.Seseorang  seharusnya jujur dan obyektif  dalam melakukan penelitian, dan menjauhkan diri dari sikap berfikir fanatisme dan emosional untuk bisa mendapatkan sunber-sumber informasi yang terpercaya. Sebab sikap berfikir fanatic dan emosional tak memperhatikan sah atau tidaknya data-data yang diperoleh
Yang menonjol dari orientalis adalah mencari data-data tak peduli benar atau salah, asalkan bisa dipakai untuk mendukung pendapatnya, pendapat itu tentu saja yang menguntungkan misi mereka. Karenannya orientalis menarik kesimpulan yang terbalik dan sering ditemui pembahasan-pembahasan yang kontradiktif , tak serasi.
Disini kami akan memaparkan bagaimana kajian Orientalis terhadap  sejarah islam

Pembahasan
Kajian orientalis terhadap sejarah islam dilakukan oleh Philip K. Hitti (Guru besar sastra Semit di Universitas Princeton). Ia melancarkan tuduhan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang penipu yang lihai. Uraian yang dikemukakan tentang kehidupan beliau memberikan kesan pembacanya bahwa dia benar-benar penipu yang telah merencanakan tulisan itu secara cermat. Kemudian dia berpendapat bahwa Islam tidak lebih sekedar warisan orang yahudi-kristen yang diarabsasikan. Karena dengan maksud buruk untuk mendiskreditkan[1] kehidupan dan kegiatan Nabi Muhammad Saw,  dalam buku itu sama sekali tidak disebutkan mengenai ilmu hadist yang dikembangkan secara teliti dan cermat oleh Bukhari dan Muslim, dimana keduanya meneliti secara menyeluruh keabsahan setiap hadits dengan cara yang lebih cermat dibandingkan dengan penelitian terhadap dokumen-dokumen historik pada umumnya. Ketika membicarakan syariat yang berkaitan dengan poligami, pencurian, riba dan perjudian. Philip K. Hitti secara berani menyimpulkan bahwa umat islam modern praktis telah menentukan ketetapan hukum dalam Al-Qur’an.[2]
Orientalis juga mengingkari status Adam sebagai nenek moyang manusia. Mereka menganggap bahwa manusia adalah bentuk lanjut dari binatang sebagai hasil evolusi alam. Penyimpangan-penyimpangan seperti ini dikarenakan para penulis sejarah tersebut bersandar pada pemikiran saja atau mengambil referensi-referensi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenaranya. Sebagai  contoh, beberapa buku  sejarah mengambil kitab taurat sebagai referensi, padahal kitab tersebut sangat diragukan keasliannya. Akibatnya, banyak pernyataan-pernyataan yang sangat janggal dan sesat, yang mendorong orang untuk menganggap sejarah nabi sebagai legenda dan mitos belaka. [3]
Banyak orientalis yang telah berusaha memutar balik esensi sejarah Islam yang telah tercatat dalam sejarah kemanusiaan pada fase-fase sejarah yang berbeda. Philip K. Hitti dengan jelas menolak adanya validiyas moral dan spiritual Islam sebagai daya tarik utama bagi masuknya pemeluk baru agama ini. Jika penjelasan mengenai perluasan Islam yang berjalan cepat itu benar-benar bersifat ekonomi, lalu bagaimana harus dijelaskan, faktor apa yang telah menginspirasi mereka untuk mendermakan harta bendanya di jalan Islam, tidak takut mati atau kelaparan?, Faktor apa yang membuat mereka tidak merasa keberatan membawa anak istri mereka ke medan tempur yang jauh dari tempat tinggal mereka?, Tidak diragukan, semua itu karena motivasi iman mereka. Seandainya motivasi para sahabat semata bersifat duniawi seperti anggapan Philip K. Hitti dan kawan-kawan orientalisnya, bagaimanakah menjelaskan fakta bahwa nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin tidak mempunyai ketamakan terhadap dunia? Seandainya mereka bertempur untuk mencari kepentingan pribadi, mereka tidak akan mempunyai disiplin, semangat juang tinggi yang menggetarkan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya serta jauh lebih lengkap persenjataannya.[4]
Masih banyak contoh bagaimana pandangan orientalis terhadap sejarah Islam. Misalnya Montgomery Watt, orientalis Inggris, memberi interpretasi tentang Jihad dari kacamata materialisme belaka, dengan mengaitkan untung ruginya. Disini dapat dilihat bahwa ternyata dia tidak bisa melihat kenyataan bahwa perlawanan paling gigih dalam menghadapi kolonialisme barat di timur, Islam merupakan motivator terpenting yang hingga saat ini masih menggema di berbagai tempat. Seandainya ucapannya benar, pasti Islam telah sirna dari muka bumi sejak lama dan tidak perlu dipelajari lagi oleh kaum orientalis.[5]
Para penulis sejarah dikalangan orientalis dan pengikutnya senantiasa menyibukkan diri dengan usaha-usaha untuk menyimpangkan sejarah islam. Penulisan sejarah islam yang dilakukan para orientalis dan pendukungnya tersebut hanya untuk menghancurkan Agama Islam dan mencemari kemurnian Aqidah Islam. Mereka berusaha menggoyahkan keyakinan manusia, terutama umat islam tentang Eksistensi Rabb alam semesta, malaikat-nya, kitab-kitabnya dan rasul-rasul-nya. Mereka menggambarkan sejarah Islam dengan memalsukan dan memutarbalikan fakta sejarah, sehingga umat Islam tidak lagi mengenai jati diri dan tujuan hidupnya. Bersamaan dengan hal itu pula, mereka berusaha menanamkan cara-cara berpikir tertentu untuk mewujudkan tujuan sesat pula.
Bernard Lewis seorang sarjana barat terkemuka sekarang ini pernah menyatakan bahwa sejarah arab yang di tulis Eropa umumnya dilakukan oleh ahli-ahli sejarah yang tidak mengetahui bahasa Arab, sedangkan penulis-penulis yang menguasai bahasa Arab tidak ahli dalam bidang sejarah, sehingga cemoohan yang mereka kemukakan memang tepat tidak seluruhnya benar.[6]
Penulisan sejarah Umat islam telah digunakan oleh para ilmuan yang menyimpan sikap antipasti terhadap Islam untuk melakukan usaha-usaha peruntuhan Agama Islam. Berbagai tipu daya, pembelokan jalannya sejarah, penyembunyian dan pemutarbalikan fakta, dikemas dalam kalimat-kalimat bermata dua dalam penulisan sejarah umat islam. Mereka menyingkirkan para Rasul dan para Nabi sebagai pelaku penting sejarah bangsa-bangsa.
Dan ketika para penulis orientalis itu menulis sirah nabi Muhammad Saw sejumlah kata berbisa menyelinap di antara rangkaian kalimat-kalimat yang indah dan penuh sanjungan. Mareka mengatakan Nabi Muhammad adalah seorang muslikhin (penganjur kebaikan) yang memperoleh banyak keuntungan dari perjuangan-perjuangan orang-orang yang mendahuluinya. Orientalis mengatakan Nabi Muhammad telah menciptakan dari agama yahudi, Nasrani dan jahili, sebuah agama baru yaitu Islam.
Konsep-konsep sejarah semacam inilah yang sekarang diajarkan di negeri-negeri Islam. Konsep sejarah yang hendak melepaskan sejarah suatu bangsa dari kaitan dakwah Islam ditengah-tengah umat bangsa itu. Melepaskan kaitan yang kokoh kuat diantara para Nabi dan Rasul yang diutus ditengah-tengah umat manusia yang berada di negeri itu. Mereka hendak memotong sejarah Islam yang terbentang ribuan tahun sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw, dan mengajak seluruh manusia untuk bersama-sama menguburkan peninggalan sejarah Pra Muhammad itu kedalam sejarah yang mereka namakan sejarah Watsani Jahili, Sejarah Kuno, Zaman Batu, dll. Sejarah semacam inilah yang mereka namakan sejarah Arab sebelum Islam. Seakan-akan sebelum kedatangan Nabi Muhammad, tidak ada Rabb, tidak ada agama Islam.[7]
Bentuk-bentuk kajian cendikiawan Barat (para Orientalis) tentang Islam, ditinjau dari tujuan-tujuannya :
Meragukan kehadiran dan kebenaran Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah dan sumber-sumbernya wahyu ilahi. Mereka secara Apriori[8] tidak mengakui Nabi Muhammad Saw sebagai pesuruh Tuhan yang menerima wahyu melalui malaikat Jibril, seperti halnya para nabi sebelum beliau. Mareka menafsirkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi secara simpang-siur. Terkadang, lantaran waktu menerima wahyu sering gemetar dan sebagainya, mereka menafsirkan itu sebagai penyakit ayan. Diantara kaum orientalis ada yang mengatakan bahwa wahyu tersebut merupakan halusinasi Nabi Muhammad semata. Sungguh diluar sopan-santun tutur-kata seorang orientalis, mereka menuduh Nabi Muhammad berpenyakit jiwa. Terkesan seolah-olah wahyu ilahi tidak pernah turun kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad .[9]
Sebenarnya kebanyakan dari kaum orientalis adalah orang yahudi dan Nasrani, yang mengakui akan nabi-nabi yang telah disebutkan didalam kitab Taurat dan mereka kurang memperhatiakn tentang Nabi Muhammad. Maka keingkaran mereka itu disebabkan oleh ke fanatikan agama yang memenuhi jiwa mereka.
Kemudian mereka juga menyangkal Al-Qur’an sebagai kodifikasi wahyu ilahi, yang telah turunkan kepada Nabi Muhammad. Dan mereka menuduh bahwa Al-Qur’an tersebut diambil dari orang-orang yang menerangkan kepada Muhammad Saw.[10] Padahal jika mereka mau melihat adanya fakta-fakta sejarah dan cerita dulu kala yang secara komplit termuat didalam Al-Qur’an, mustahillah kitab seperti itu ditulis oleh seorang buta aksara alias Ummi[11] seperti Nabi Muhammad. Namun, kaum orientalis tetap beranggapan bahwa Al-qur’an hanyalah kumpulan cerita-cerita Nabi Muhammad. Tetapi dari segi lain, umat islam dengan kepada dingin bisa belajar banyak dari kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh orientalis dibidang keagamaan, yang secara gegabah sering meletakkan keterangan-keterangan yang spekulatif dan seenaknya saja.Pengingkaran mereka selanjutnya yaitu mereka juga menyangkal Islam sebagai agama Tuhan. Bahkan Islam hanya diakui sebagai ramuan kedua agama:Yahudi dan Nasrani.[12] Dan menurut dua orang orientalis Goldziher dan Schacht mengatakan bahwa agama Islam diambil dari agama yahudi dan dipengaruhi oleh agama Yahudi. Sedangkan kaum orientalis Kristen mengikuti dakwaan orientalis yahudi tersebut, karena tak ada dalam Kristen sya’riat untuk dapat mereka mendakwakan bahwa agama Islam mengambil dari sya’riat Kristen.Hanya orientalis Kristen mendakwakan bahwa pokok-pokok akhlak Kristen mempengaruhi akhlak Islam dan masuk dalam akhlak Islam.[13]
Metode dan pendekatan
Metode yang mereka lakukan terkadang tidak konsisten bahkan jauh sikap objektif, hal ini terjadi akibat sikap emosional dan kefanatikan mereka terhadap agama yang mereka anut, sehingga ditemukan pembahasan yang kontradiktif, tidak serasi, contohnya kesimpulan Goldzier tentang hukum-hukum syariat islam yang mengatakan bahwa hukum islam tak dikenal dan tak diketahui oleh umat islam pada awal pemerintahan Islam. Bahkan hukum syariat dan sejarah islam, menurut Goldzier, juga tidak dikenal oleh para imam besar sekalipun. Meskipun dalam pendapatnya tersebut ia mengutip pendapat yang mata lemah dan tak berasal dari orang yang ahli dan dipegangi orang banyak.
Kaum orientalis bekerja untuk meneliti umat Islam dengan menempuh berbagai macam jalan. Mereka mengarahkan tenaga, keahlian, waktu dan harta. Kemudian segala hasil yang diperoleh dikembangkan dengan berbagai bentuk dan cara. Diantaranya sebagai berikut:
1.      Mengadakan perguruan bahasa Timur
2.      Mengumpulkan buku-buku tulisan tangan
3.      Mengumpulkan barang-barang lama
4.      Penelitian buku-buku tulisan tangan
5.      Penyalinan ke dalam bermacam-macam bahasa
6.      Mempelajari dan menerangkannya.[14]
Didalam buku isu Zionisme Internasional juga disebutkan berbagai metode yang digunakan oleh orientalis :
1.      Menerbitkan buku-buku islam dan tentang biografi Nabi Muhammad sebanyak mungkin
2.      Menerbitkan majalah-majalah yang khusus menyajikan soal-soal dunia islam dan peradapannya.
3.      Mengirim misi keseluruh penjuru Negara Islam dengan dalih usaha kemanusian, seperti membangun rumah sakit, panti asuhan, sekolah, usaha bantuan sosial.
4.      Menyelenggarakan ceramah diberbagai perguruan tinggi dan lembaga ilmiah. Bahkan adapula perguruan tinggi di Arab dan Negara-nagara Islam lainnya yang secara sengaja mengundang mereka untuk enyampaikan presentasi ilmiah dan kuliah umum tentang islam.
5.      Sebanyak mungkin menulis kolom (artikel) untuk Pers (surat kabat dan majalah) di Negara mereka sendiri.[15]
Kesimpulan
Dari makalah ini, penulis menarik kesimpulan bahwa Orientalis mengomentari tentang sejarah Islam dengan pikiran dia sendiri tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Agama islam menurut pandangan Orientalis cuma Arabisasian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dari agama Yahudi dan Nasrani. Orientalis juga menganggap bahwa Agama Islam hanya untuk kepentingan ekonomi saja. Tentu saja hati umat Muslim marah mendengar perkataan dari kaum orientalis mengenai sejarah Islam yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
Inilah sebuah tantangan bagi kita untuk mematahkan kajian para orientalis tersebut dengan cara kita harus lebih memperdalam ilmu keislaman untuk mengantisipasi serangan orientalis terhadap umat Islam.


Daftar Pustaka
Baharun  Mohammad, Isu Zionisme Internasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
Hadi, M. Mas’oud, dkk, Sejarah Islam dicemari Zionis dan Orientalis, Jakarta: Gema Insani Press, 1993.

Jamilah, Mariam, Islam dan orientalsime, Islam dan Orientalisme, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.

Umar, Muin, Historiografi, Jakarta: Cv. Rajawali, 1988.
Yakub, Ismail, Orientalisme dan Orientalisten, Surabaya: CV :Faizan, 1971.
Http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/03/orientalisme-dalam-berbagai bidang.html.







[1] men·dis·kre·dit·kan: (berusaha untuk) menjelekkan atau memperlemah kewibawaan seseorang atau satu pihak tertentu: selebaran berupa pamflet gelap itu bertujuan ~ Pemerintah
[2] Mariam Jamilah, Islam Dan Orientalsime, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), cet-1, h. 14-23.
[3] Jamal abdul Hadi, dkk, Sejarah Islam dicemari Zionis dan Orientalis, (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), h. 76.
[4] Http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/03/orientalisme-dalam-berbagai bidang.html. Di akses bulan November 2012
[5] Ibid.
[6] Muin Umar,  Historiografi, (Jakarta: Cv. Rajawali, 1988), h. 130.
[7] Jamal Abdul Hadi, dkk, Sejarah Islam Di cemari Zionis dan orientalis, (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), h. 75.
[8] berpraanggapan sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dsb) keadaan yg sebenarnya: kita tidak boleh bersikap --
[9] Mohammad Baharun, Isu Zionisme Internasional, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1997), h. 61.
[10] Ismail Yakub, Orientalisme dan Orientalisten, (Surabaya: CV: Faizan, 1971), h. 53.
[11] Seandainya Nabi bisa membaca, maka jawabannya ketika diperintahkan membaca oleh malaikat Jibril adalah, “Tulisan yang mana yang mesti aku baca!”. Tapi beliau langsung menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Ini artinya, jawaban itu keluar secara spontan karena sehari-harinya Nabi memang “Tidak bisa membaca!”. Bukankah Nabi orang yang jujur (al-amin)?
Berkata Al-Marwadi: "Bila ditanyakan: apakah bentuk karunia dalam hal diutusnya seorang Nabi yang ummi? Maka jawabnya adalah ada tiga bentuk. Pertama: Untuk menunjukkan sesuainya keadaan dia dengan kabar dari nabi-nabi sebelumnya.
Kedua: Agar keadaannya sesuai dengan keadaan mereka (kaumnya) sehingga lebih memungkinkan diterima.
Ketiga: Untuk menghindari buruk sangka dalam mengajarkan apa-apa yang didakwahkannya berupa kitab yang dia baca dan hikmah-hikmah yang dia sampaikan." Menurut pendapatku, semua itu merupakan dalil mukjizatnya dan bukti kenabiannya.

[12] Opcit, h. 63.
[13] Opcit, h.54.
[14] Ismail Yakub, Orientalisme dan Orientalisten, (Surabaya: CV Faizan, 1971), h. 66-70.
[15] Mohammad Baharun, Isu Zionisme Internasional, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. 77-88.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar